Nasional

The Family Firm’

187Views

Banyak yang heran kenapa Prabowo Subianto pergi ke Austria. Pesawat jet pribadinya yang ditumpanginya tiba-tiba berbelok arah setelah lepas landas dari Bandara Internasional Dubai, Uni Emirat Arab.

Apalagi, Prabowo tidak sendirian. Mantan menantu Presiden Soeharto itu, didampingi sejumlah warga asing. Di antaranya Justin Darrell Flores Howard, warga AS, juga Mischa Gemerman warga Jerman dan dua warga Rusia masing-masing Mikhail Davydov dan Anzhelika Butaeva.

Apakah kepergiannya dari Bandara Halim Perdana Kusuma Jakarta, Selasa 28 Mei itu, berkaitan dengan laporan khusus Majalah TIME?

Dalam terbitannya Senin 27 Mei, majalah bergengsi itu menurunkan laporan tentang kekayaan Keluarga Cendana. ”Ada pengalihan dana besar-besaran dari dari sebuah bank di Switzerland ke salah satu akun di Austria pada tahun 1998,” tulis laporan itu. Jumlahnya sebesar $ 9 miliar atau setara Rp 126 triliun.

Bisa saja dugaan itu keliru. Boleh jadi Prabowo Subianto hanya jalan-jalan ke Austria menikmati salju, seperti foto yang banyak beredar di media sosial.

Ada yang menyebut foto itu adalah foto lama, mengingat Austria kini tidak bersalju dan kini suhunya mencapai lebih dari 30 derajat Celcius. Sementara ada pula foto Prabowo di dalam pesawat jet pribadinya tengah duduk dikelilingi sejumlah anak buahnya, beredar di media sosial.

Prabowo Subianto & anak buahnya dalam pesawat jet pribadinya.

Laporan investigasi TIME itu menyebutkan, dana trilyunan rupiah itu belum seberapa. Masih ada simpanan dan kekayaan lain dari Keluarga Cendana. Enam putra-putri Soeharto memiliki 564 perusahaan di Indonesia dan luar negeri. ”Dari Uzbekistan hingga Belanda, Nigeria dan Vanuatu,” tulis laporan tersebut.

Prabowo di Austria (Facebook)

Di samping taman perburuan di New Zealand bernilai $ 4 juta, Keluarga Cendana punya saham 50% di perusahaan parkir khusus kapal pesiar di luar Darwin, Australia. Hutomo Mandala Putra punya 75% saham di lapangan golf lengkap dengan 22 apartemen mewah. Bambang Trihatmojo bahkan punya rumah mewah di Los Angeles senilai $ 12 juta, yang letaknya tak jauh dari kediaman penyanyi Rod Stewart.

”Titik Hardiyanti Rukmana baru saja menjual pesawat Boeing 747-200,” tulis John Colmey dan David Liebhold, dua wartawan TIME. ”Tapi, sampai sekarang, Keluarga Cendana masih punya pesawat DC-10, juga jumbo jet Boeing 737, sebuah Canadian Challenger dan sebuah pesawat BAC-111. ”Pesawat terakhir itu pernah dimiliki Suadron Ratu Elizabeth II, tutur Dudi Sudibyo, Redaktur Pelaksana Majalah Angkasa.

Tutut, Sigit, Bambang, Titiek, Tommy dan Mamiek (Keluarga Cendana)

Dari ratusan sumber – mantan pejabat hingga pengacara, akuntan dan lainnya – yang diwawancara TIME, disimpulkan terdapat indikasi adanya transaksi bernilai $ 73 miliar (setara Rp 1000 trilyun) antara Keluarga Soeharto dan sejumlah perusahaan sejak 1966 hingga sekarang. Bahkan, seorang mantan rekan bisnis putra-putri Soeharto mengaku, ”Mereka tak bayar pajak antara $ 2,5 miliar sampai $ 10 miliar.

Perusahaan konglomerat Soeharto Inc. berdiri tahun 1966, di kala Presiden Soeharto lewat Dekrit Presiden menyita dua konglomerasi Soekarno yang memiliki aset sebesar $ 2 miliar (sekitar Rp 28 triliun). Perusahaan yang diberi nama PT Pilot Project Berdikari itu, dipimpin oleh Achmad Tirtosudiro, mantan jenderal yang pernah menjadi Ketua Umum ICMI.

Perusahaan itu mencapai suksesnya setelah menggandeng Liem Soei Liong (Soedono Salim) dan The Kian Seng (Bob Hasan). Praktik monopoli pun berlangsung di berbagai bidang, misalnya monopoli bisnis tepung terigu dari PT Bogasari Flour Mills yang dikendalikan Salim Group.

Sudwikatmono, Sudono Salim & Soeharto (koleksi Istana Negara)

Sedangkan Bob Hasan bergandengan dengan Sigit Harjojudanto, putra Soeharto mengelola PT Nusantara Ampera Bakti. Perusahaan yang disingkat Nusamba ini berhasil meraup keuntungan miliaran dolar dari berbagai bidang industri. Mulai dari keuangan, energi, pulp kertas, metal dan kendaraan bermotor. ”PT Freeport Indonesia merupakan bidang usaha yang paling diandalkan, karena memiliki 4,7% saham,” tulis TIME.

Belum lagi perusahaan minyak Pertamina. Perusahaan milik negara ini kemudian diberikan kepada Ibnu Sutowo. Banyak yang menduga Ibnu Sutowo, dipecat gara-gara gagal membangun kapal tanker sehingga Pertamina merugi tahun 1975. Kepada TIME, Ibnu Sutowo menuturkan kala itu ia diminta mendirikan sebuah perusahaan lain yang mengirimkan minyak mentah Indonesia ke Jepang.

”Saya minta kamu ambil $ 0.10 setiap barel yang dijual perusahaan itu,” kata Soeharto seperti dituturkan Ibnu Sutowo. ”Tatkala saya bilang tak bersedia, dia kelihatan kaget,” sambungnya. Ibnu Sutowo wafat pada tahun 2001.

Setelah memecat mantan jenderal itu, Pertamina kemudian mendirikan dua perusahaan eksportir minyak. Yakni Perta Oil Marketing dan Permindo Oil Trading. Dari dua perusahaan ini Tommy dan Bambang menangguk keutungan cukup besar. Sebab, menurut pejabat senior semasa Pemerintahan BJ Habibie, perusahaan itu mengutip komisi $0.30 – $ 0.35 per barrel.

Padahal untuk kurun waktu 1977-1998, dua perusahaan itu mengekspor 50 ribu barrel minyak per hari, dan komisinya mencapai sekitar $ 50 juta. ”Seharusnya Pertamina bisa ekspor langsung. Tak perlu melalui dua perusahaan itu,” kata Soebroto, mantan Menteri Pertambangan RI kepada TIME.

Putra-putri Soeharto/Keluarga Cendana

Laporan khusus Majalah TIME tentang Indonesia tersebut, merupakan bagian dari tim investigasi 11 negara, yang dikerjakan selama 4 bulan. Meski terkesan eksklusif namun artikel berjudul ‘The Family Firm’ itu tidak mengejutkan sebagian besar warga Indonesia, karena sebagian besar bukan cerita baru. Hanya saja, beredar di tengah-tengah suasana politik Indonesia yang memanas belakangan ini. Dan, kepergian Prabowo Subianto ke Austria.

”Transfer dana besar ke Austria menjadi perhatian khusus Departemen Keuangan AS, yang memantau pergerakan dana tersebut,” tulis laporan tadi.

Tinggalkan Balasan

Translate »