Nasional

Jurnalisme, Media & Tren Teknologi

Oleh: S.S Budi Rahardjo (Ketua Forum Pimpinan Media Digital)

208Views

Di kala Dewan Pers masih tenggelam memverifikasi, setiap media massa yang ingin didata oleh Dewan Pers harus berbadan hukum satu saja, tidak boleh dicampur dengan usaha lain.

Jurnalisme, media dan tren teknologi sudah berlari meninggalkan hal-hal “lawas” semacam itu.

Dari 4.300 media online (siber), paling yang sudah diverifikasi 300 saja.

Bukan berarti, hanya jumlah itu yang disebut media profesional. Terlepas apakah aturan itu perlu diperbaharui atau tidak, sesungguhnya media cetak, radio dan televisi memasuki wajah baru.

Tugas pers mengembangkan visi dan misi yang futuristik, melampaui jaman kekinian yang tak mudah.

Bukan hanya tampilan dan model jurnalisme, tetapi juga cara distribusi, promosi termasuk sumber daya manusia yang disebut profesional.

Sekarang ini, pimpinan media sudah memasuki revolusi teknologi.  Semua terjadi dengan kecepatan dan kompleksitas.

Teknologi 4.0 telah mengubah manusia dalam  mengkonsumsi media.  Jutaan berita dan informasi masuk ke medsos, menyebar dari satu grup ke grup media lain.

Media digital juga punya cara, agar tulisannya di-klik banyak orang, tulisan tersebut di posting ke grup-grup media sosial  yang punya fans, banyak anggotanya.  Pasalnya, ponsel pintar memberikan kenyamanan dalam melihat berita, serba gratis pula.

Di tengah banjir informasi, media massa mainstream (cetak) menjadi clearing house — tempat orang mengecek informasi benar.

Uniknya, media cetak masih diminati karena lebih humanis, mendalam, dan dalam dalam pembahasan, kadang dijadikan sebagai souvenir dan dibaca kaum elit (premium). Apalagi investigasinya seru!

Platform media, jurnalisme memasuki konfergensi. Mulai dari video (vlog) hingga TV digital dengan server pinjam atau titip ke youtube.

Sehingga, tak heran ditulis seorang pakar humas,  mencatat ada satu miliar video views per harinya. Ada empat juta foto per jam yang diunggah di Instagram.

Facebook menyebutkan setidaknya ada tiga miliar likes & comment yang mereka dapatkan setiap harinya dan 15 juta foto yang di-upload per jam.

Arus informasi mengalir sangat deras. Sekarang, publik adalah media! Dan kita adalah jurnalis.

Riset Visa bertajuk Consumer Payment Attitudes Study menyebutkan, orang Indonesia menghabiskan 6,4 jam sehari di smartphone atau 25%-an dalam keseharian mereka. Sekitar tiga jam hanya untuk urusan media sosial.

Bisa diartikan, masyarakat kita lebih sibuk dengan akun media sosial ketimbang menaruh perhatian pada media mainstream yang menawarkan trust dan kredibilitas.

Di era digital, media massa harus bersaing memperebutkan kue iklan tehadap media sosial, blogger dan youtuber.

Tidak salah jika saat ini sebagaimana Richard Edelman, CEO Edelman, menjelaskan bahwa: every organization is a media organization!

Era digital membuat semua bisa memiliki media sendiri, termasuk perusahaan. Cukup membuat website, mempekerjakan tiga-empat orang, membuat konten, dan mempublikasikannya.

Bahkan, search engines dan social network bisa menjangkau audiens secara langsung.  Sesuai target readers-nya. Kita juga memasuki, era kecerdasan artifisial.

Era Kecerdasan Artifisial, apa itu?

Kecerdasan buatan adalah kecerdasan yang ditambahkan kepada suatu sistem yang bisa diatur dalam konteks ilmiah atau bisa disebut juga intelegensi artifisial.

Artificial Intelligence atau hanya disingkat AI, didefinisikan sebagai kecerdasan entitas ilmiah. Dalam teknologi AI, perancang atau yang membuat berita bisa saja dilakukan oleh mesin saat ini .

Jadi, di tahun-tahun mendatang, kita tidak lagi hanya bertanya apa yang benar atau hoax.  Pertanyaan berikut,  apakah informasi itu dihasilkan oleh manusia?

Karena bisa saja, berita itu yang membuat adalah mesin, dengan coding atau sari dari ragam medsos atau dicuplik dari media arus utama, tanpa klarifikasi jurnalistik.

Metafora jenis konvergensi antara dunia nyata dan dunia digital.

Eng-ing-eng. Survei Asosiasi Media Digital Indonesia (AMDI) terhadap para pemimpin media menunjukkan bahwa yang dianggap ancaman bukan lagi sesama media massa, tapi kekuatan platform semacam Google atau Facebook yang menyedot potensi belanja iklan.

Di tengah banyak media massa kesulitan membayar kesejahteraan SDM-nya dengan layak, aplikasi digital memudahkan setiap orang memiliki media massa sendiri.  Perusahaan yang paling cerdas akan menggabungkan data dan algoritma dengan konten hebat.

Tak pelak, pers Indonesia, apapun platform-nya, mau tak mau harus berkolaborasi dengan Google, Twitter, atau Instagram, Facebook hingga memiliki tim buzzer di medsos.

Inovasi mutlak bagi media arus utama agar bertahan.  Karena sesungguhnya, publik masih membutuhkan informasi dan konten bermutu. Media cetak tetap bertahan dan disukai. Salam erat untuk insan media massa, di pesta  Hari Pers Nasional!

#s.sbudirahardjo, #CEOeksekutif, #PemredMATRA

Tinggalkan Balasan

Translate »