Nasional

Generasi Limited Edition

*Inilah generasi angkatan tahun 1940-70an ( yang usianya sekarang 50-an sampai 70-an tahun)*

Sekedar diketahui. Generasi yang lahir pada tahun itu adalah generasi yang layak disebut generasi paling beruntung!

Kenapa?

Karena generasi ini, mengalami loncatan teknologi yang begitu mengejutkan. Mereka masih mengalami, alat penerang lampu petromax dan lampu minyak.

Mereka juga generasi di masa ini, yang menikmati lampu bohlam, TL, hingga LED yang kekinian.

Orang-orang yang pernah menikmati “riuh”-nya suara mesin ketik”. Sekaligus saat ini, jari-jari mereka masih lincah menikmati keyboard dari laptop.

Mereka adalah generasi terakhir yang merekam lagu dari radio dengan tape recorder. Dimana ada periode, saat mendengarkan lagu, pitanya mbulet- kusut.

Generasi  yang tak mengalami “gegar budaya”. Tapi mengalami ragam situasi. Menikmati piringan hitam, hingga mudahnya men-download lagu-lagu dari gadget.

Mereka generasi yang di masa kecilnya bertubuh lebih sehat dari anak masa kini. Waktu lalu,  mereka mengalami permainan lompat tali, loncat tinggi, petak umpet juga gobak sodor.

Main kelereng, bentengan, main karetan, sumpit-an, galasin dan layangan. Sekaligus saat ini, mata dan jari generasi ini lincah dan tak mau kalah untuk main (game )di gadget.

Ada masa yang namanya nge-geng atau kelompok, dengan nama-nama keren hingga sangar. Ada Srike, Apik, hingga nama Kritis.

Kalau janjian ketemuan, “disamper” ke rumah. Tanpa janji atau tanpa telpon/SMS tapi selalu bisa kumpul bersama menikmati Malam Minggu sampai pagi.

Generasi yang berjanji cukup dengan hati. Saat bertemu, tertawa terbahak-bahak  bersama. Nongkrong di off air, tapi generasi ini juga tetap bisa ber-“‘Wkwkwkwk.” di Grup Facebook WhatsApp saat ini.

Memang layak disebut generasi emas.

Jalan-jalan sore dengan mobil berpeleg tertentu, knalpot nyaring juga bersepeda Jengki atau Onthel/Motor sambil menikmati segarnya udara/angin di jalan raya tanpa helm di kepala.

Generasi terakhir yang pernah menikmati jalan kaki berkilo-kilo meter tanpa perlu berpikir ada penculik atau rampok yang membayangi.

Merupakan generasi terakhir yang  pernah merasakan nikmatnya nonton TV hitam putih layarnya. Dengan “senang hati tanpa diganggu remote untuk pindah-pindah chanel” sana-sini.

Yang berdebar-debar menunggu hasil cuci-cetak foto, seperti apa hasil jepretan kita. Selalu menghargai dan ber-hati-hati dalam mengambil foto.

Tidak menghambur hamburkan jepretan dan mendelete-nya jika ada hasil muka yang jelek. Saat itu, jika hasil jepretan fotonya ber-muka jelek. Maka, kita menerimanya dengan rasa ihklas.

Ihklas dan tetap ihklas apapun. Tampang di dalam foto itu, ya natural. Maka, fotografer jaman itu menjadi pilihan banyak orang-orang, jika bisa membuat hasil prima. Sementara sekarang, semua bisa diedit photoshop atau beauty face.

Merupakan generasi terakhir yang pernah begitu mengharapkan datangnya “Pak Pos” menyampaikan surat dari sahabat dan kekasih hati.

Bukan generasi terbaik, tapi mereka generasi yang “Limited Edition” dengan prinsip integritas dan idealis . Di lain sisi, ada genk borju, yang juga berbaur dengan banyak kalangan.

#S.S Budi Raharjo MM

Redaksi Time
the authorRedaksi Time

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Translate »